Selasa, 05 Maret 2013

BAB I - Complication

Hempp... dulu pas jaman kuliah, diantara sekian keisengan yang aku lakukan disela libur, pernah iseng coba2 nulis novel. Belum sempat dilanjutin sih sampek sekarang.. tapi check it out dulu deh ! comment ya... :)


~ ASA META ~

Meta memencet-mencet tut-tut di ponselnya dengan serampangan, tanpa tahu pasti apa tujuannya melakukan itu. Merasa tak terpuaskan, Meta beralih pada pulpen dan kertas di sampingnya yang dari tadi diabaikannya. Tapi kenyataannya ia hanya memukul-mukulkan pulpen itu pada kertas. Menyerah, pada akhirnya Meta menenggelamkan wajahnya ke kasur dan menimpanya  dengan bantal. Kini ia merasa aman, dan dengan begitu ia merasa bisa berpikir lebih jernih.

**

    From: 085xxxxxxx
Pagi.
Hi Ta, ni Geo.
Gimana kabarnya sekarang?

Semula Meta tak berniat membuka sms itu karena kepalanya masih berat. Tapi karena ia merasa sudah bangun pagi itu, dengan terpaksa ia meraih ponselnya. Pada awalnya ia sempat mengutuk-ngutuk karena ternyata sms itu dari nomor baru. Tapi kalimat kedua membuat matahari yang dari tadi juga malas bangun, serta merta terbit bagi Meta.
Geo?
Emosi Meta pun serta merta terbit dengan lincah.
Geo? Meta memastikan ia benar-benar sudah meninggalkan mimpinya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan tulisan di layar ponselnya masih tetap sama.

          To: 085xxxxxxx
Sebenernya cuma ada satu Geo yang pernah aku kenal  selama ini.
Jadi?..

          From: 085xxxxxxx
J
Senang tau kalau ortu gue berhasil kasih nama yang  eksklusif buat gue.

Pada momen-momen berikutnya terlihat Meta sudah sibuk dengan ponselnya. Sesekali terlihat ia melemparkan ponselnya ke tempat tidur, merenung, tersenyum, lalu mulai memencet-mencet lagi ponselnya. Begitu berulang-ulang. Pagi itu sinar matahari terasa lebih bersahabat bagi Meta. 
Geo adalah seseorang yang pernah menjadi spesial di hari-hari Meta. Dulu sekali. Namun segalanya ternyata tidak berjalan sesuai dengan harapan Meta waktu itu. Belum sempat ada yang resmi dalam hubungan mereka, dan intensitas mereka berhenti begitu saja. Dan Meta –dengan penyesalan yang tidak disadarinya– memutuskan bahwa ceritanya bersama Geo hanyalah salah satu babak kecil dari perjalanan hidupnya yang panjang. Tapi kenyataannya sms-sms Geo akhir-akhir ini sangat sukses mengacaukan pikirannya. Dan kini ia sedang berusaha keras membuat keputusan dibalik bantalnya. Cukup lama sidang di pikiran Meta berlangsung. Di akhir persidangan, dengan klise hakim memutuskan bahwa Meta tidak seharusnya menanggapi kemunculan Geo ini dengan berlebihan.
Tidak ada yang sangat aneh dari seorang teman lama yang menghubungi temannya.

Begitulah Meta mengakhiri pergulatan pikirannya. Ia bahkan tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan provokatif yang bermuculan di pikirannya, yang memberinya kesempatan berfikir ini bukan suatu keadaan biasa saja.

Hmm…. tapi ternyata hidup memang tidak berada di genggaman tangan Meta. Tidak semudah itu Meta mengakhiri masalah kecilnya. Pada hari-hari berikutnya ia sering mendapati dirinya melamun, terhipnotis untuk melihat film hitam putih Geo thing-nya yang masih saja terselip di antara syaraf-syaraf otaknya. Sebuah momen ber-sms dengan Geo beberapa hari yang lalu sangat sukses mengacau pikiran Meta. Sekeras apapun ia bertekad untuk  mengabaikannya. Hari itu, berkali-kali Meta berolahraga dengan gerakan mengangkat-melempar ponselnya

Oke, MUNGKIN tidak ada salahnya aku sms dia duluan. Bagaimanapun ia ‘teman’ kan?
Meta mengaku kalah. Ia mencoba menuruti nalurinya yang terus menghasutnya untuk menghubungi Geo.

Lihat saja apa yang terjadi! Pikirnya jengah sambil menekan tombol kirim pada ponselnya. Meta masih sempat mengamati animasi sms sedang dikirim di Ponselnya. Kemudian ia melempar Ponselnya ke tempat tidur, diikuti dengan badannya. Ia menggigit bibirnya, menatap langit-langit kamarnya, kemudian meraih bantal disampingnya dan menekankannya pada wajahnya. Ia merasa seperti sedang duduk suatu tempat makan dan seseorang menyiramkan minuman ke kepalanya. Di suatu tempat di kepalanya ia mendengar suara yang tak henti-hentinya mengolok-olok tindakannya mengirim sms pada Geo barusan. Merasa sudah cukup sesak nafas Meta bangkit, membuatnya berhadapan dengan cermin besar di kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri beberapa saat, kemudian tersadar bahwa sepertinya sudah cukup lama dia mengirim sms dan belum juga ada balasan. Meta menatap Ponselnya dengan tajam.
Thank’s for proving that I just did stupid thing ever!
Meta keluar dari kamarnya, menghentak-hentakkan kakinya dengan berlebihan pada setiap langkahnya.
**



4 komentar:

  1. just curious, ini akan jadi teenlit atau metropop?? ini bab satu belum selesai kan ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum, doain moga2 cepet dapet ilham buat bikin lanjutannya.
      teenlit apa metropop ya? teenlit yang sedang menuju metropop. haha,,,

      Hapus
  2. Balasan
    1. trimakasih.... jeng reni :)
      trimakasih sudah mau mampir.. salam kenal..
      sudah saya follow blog nya
      let's keep in contact and keep giving the goodness each other ;)

      Hapus

believe, little thing will start big one. Thanks!