Hm, mari disela-sela waktu menikmati kopi/senja antara ashar dan magrib ini kita sedikit bicara tentang Indonesia.
Rasanya lucu juga, bahwa Indonesia melangkah sejauh ini, dengan secarik-dua carik informasi yang ia ketahui tentang dirinya. Kemudian, sibuk menuduh sana sini sebagai pembenaran atas dirinya.
Pertanyaannya, apakah perlu kita berbicara tentang Indonesia..?
Seperti sebuah komitmen2 konyol bersama teman sepermainan yang kadang-kadang pernah kita celetukkan disela-sela waktu bermain kita dulu saat belia, begitukah Indonesia itu..? Sebuah "komitmen" yang ajur. Kalang kabut.. Urgent.
Negara.
Eh, um, mari kita menahan untuk tidak menyebut Indonesia sebagai Negara dulu. Karena, jika kita memang pernah punya hati nurani, Negara itu tidak seperti itu. Itu adalah, anak perusahaan. Iya, itu benar adanya. Punya kantor cabang, kantor pusat dimana ia tunduk. Lebih absurd lagi, ia adalah sepenggaal "tanah surga" yang selalu berusaha dieksploitasi oleh orang-orang yang lebih "pintar" di sana. Mengatasnamakan kepintaran mereka tentu saja. Untuk lebih keren, berjaya, dsb.
Sudahlah.
Mengenang itu semua seakan tidak ada habisnya. Menimbulkan rasa sakit yang perih2 gimana di relung hati.
Permasalahannya, gejolak seakan menantang semua untuk berbicara lantang sekarang, siapa kamu..?? Siapa Indonesia..??
Meruntih semua sejarah kembali yang berbaris manis, tapi abu-abu di sela-sela ingatan kita, selalu saja, berantuk pada rasa jengah itu yang tak mampu dikekang.
ingin berteriak AKU di pasar,
berlari ke hutan,
namun hanya bersua kekosongan
ingar
ku teriak agar berharap menemu suara gema yang memantul.
tapi sungguh ruang kotak ini tidak memberi apa2.
sudahlah.
***
Berbicara Indonesia, dengan bekal secarik kertas yang diberikan "Ibu" pada kita.
Mari teriak,
Yang lantang.
AGAR SEMUA DENGAR
BAHWA KITA, KESEPIAN
Rasanya lucu juga, bahwa Indonesia melangkah sejauh ini, dengan secarik-dua carik informasi yang ia ketahui tentang dirinya. Kemudian, sibuk menuduh sana sini sebagai pembenaran atas dirinya.
Pertanyaannya, apakah perlu kita berbicara tentang Indonesia..?
Seperti sebuah komitmen2 konyol bersama teman sepermainan yang kadang-kadang pernah kita celetukkan disela-sela waktu bermain kita dulu saat belia, begitukah Indonesia itu..? Sebuah "komitmen" yang ajur. Kalang kabut.. Urgent.
Negara.
Eh, um, mari kita menahan untuk tidak menyebut Indonesia sebagai Negara dulu. Karena, jika kita memang pernah punya hati nurani, Negara itu tidak seperti itu. Itu adalah, anak perusahaan. Iya, itu benar adanya. Punya kantor cabang, kantor pusat dimana ia tunduk. Lebih absurd lagi, ia adalah sepenggaal "tanah surga" yang selalu berusaha dieksploitasi oleh orang-orang yang lebih "pintar" di sana. Mengatasnamakan kepintaran mereka tentu saja. Untuk lebih keren, berjaya, dsb.
Sudahlah.
Mengenang itu semua seakan tidak ada habisnya. Menimbulkan rasa sakit yang perih2 gimana di relung hati.
Permasalahannya, gejolak seakan menantang semua untuk berbicara lantang sekarang, siapa kamu..?? Siapa Indonesia..??
Meruntih semua sejarah kembali yang berbaris manis, tapi abu-abu di sela-sela ingatan kita, selalu saja, berantuk pada rasa jengah itu yang tak mampu dikekang.
ingin berteriak AKU di pasar,
berlari ke hutan,
namun hanya bersua kekosongan
ingar
ku teriak agar berharap menemu suara gema yang memantul.
tapi sungguh ruang kotak ini tidak memberi apa2.
sudahlah.
***
Berbicara Indonesia, dengan bekal secarik kertas yang diberikan "Ibu" pada kita.
Mari teriak,
Yang lantang.
AGAR SEMUA DENGAR
BAHWA KITA, KESEPIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
believe, little thing will start big one. Thanks!