Jadi, biar judul diatas yang mewakili maksud tulisan ini.
Akhir-akhir ini, sepertinya terlalu banyak keisengan saya lakukan.
Saya, iseng-iseng berfikir tentang hidup.
Saya, iseng-iseng begini. Iseng-iseng begitu.
Ya, semuanya bermula dari keisengan belaka.
Ya, mulanya sih mau "serius".
Tapi, kok kayanya ngga ada yang serius-serius amat, yak.
Yasudahlah.
Iseng-iseng.
Iseng-iseng berfikir apa itu hidup.
......
Bisa dimulai dari isu ini ya,
Akhir-akhir ini tu, di kawasan ini tu sedang menghangat dan melumer ke telinga orang-orang sebuah isu, yang sebetulnya tidak harus urgent-urgent amat. Tapi, karena yang disuguhi itu, ya sudah lah.
Jadi, katanya "negara" ini sedang berdemokrasi.
Kalau saya pribadi, kata dan konsep yang diambil dari bahasa latin itu, telah secara harfiah dididikkan pada publik berarti "suara rakyat", gitu kan? Dengan keterbatasan ketlatenan saya membaca text-book baik-baik, konsepsi mulia apa yang sesungguhnya terselubung dalam kata itu, tetapi, yang kita rasakan sebagai "korban" demokrasi, kata-kata itu digunakan untuk menyihir pemirsa bahwa "kata-kata publik" lah yang paling penting. Sialnya, publik sendiri tidak pernah tau siapa "publik". Ia tidak pernah tahu darimana asalnya suara, gitu kan. Tiba-tiba di publish aja, bahwa publik begini-publik begitu.
Ya, siapa sebenarnya Publik..?
Akhir-akhir ini, sepertinya terlalu banyak keisengan saya lakukan.
Saya, iseng-iseng berfikir tentang hidup.
Saya, iseng-iseng begini. Iseng-iseng begitu.
Ya, semuanya bermula dari keisengan belaka.
Ya, mulanya sih mau "serius".
Tapi, kok kayanya ngga ada yang serius-serius amat, yak.
Yasudahlah.
Iseng-iseng.
Iseng-iseng berfikir apa itu hidup.
......
Bisa dimulai dari isu ini ya,
Akhir-akhir ini tu, di kawasan ini tu sedang menghangat dan melumer ke telinga orang-orang sebuah isu, yang sebetulnya tidak harus urgent-urgent amat. Tapi, karena yang disuguhi itu, ya sudah lah.
Jadi, katanya "negara" ini sedang berdemokrasi.
Kalau saya pribadi, kata dan konsep yang diambil dari bahasa latin itu, telah secara harfiah dididikkan pada publik berarti "suara rakyat", gitu kan? Dengan keterbatasan ketlatenan saya membaca text-book baik-baik, konsepsi mulia apa yang sesungguhnya terselubung dalam kata itu, tetapi, yang kita rasakan sebagai "korban" demokrasi, kata-kata itu digunakan untuk menyihir pemirsa bahwa "kata-kata publik" lah yang paling penting. Sialnya, publik sendiri tidak pernah tau siapa "publik". Ia tidak pernah tahu darimana asalnya suara, gitu kan. Tiba-tiba di publish aja, bahwa publik begini-publik begitu.
Ya, siapa sebenarnya Publik..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
believe, little thing will start big one. Thanks!