Minggu, 20 Januari 2019

Tulisan iseng (2)

Jadi, biar judul diatas yang mewakili maksud tulisan ini.
Akhir-akhir ini, sepertinya terlalu banyak keisengan saya lakukan.
Saya, iseng-iseng berfikir tentang hidup.
Saya, iseng-iseng begini. Iseng-iseng begitu.
Ya, semuanya bermula dari keisengan belaka.
Ya, mulanya sih mau "serius".
Tapi, kok kayanya ngga ada yang serius-serius amat, yak.
Yasudahlah.

Iseng-iseng.
Iseng-iseng berfikir apa itu hidup.
......

Bisa dimulai dari isu ini ya,
Akhir-akhir ini tu, di kawasan ini tu sedang menghangat dan melumer ke telinga orang-orang sebuah isu, yang sebetulnya tidak harus urgent-urgent amat. Tapi, karena yang disuguhi itu, ya sudah lah.
Jadi, katanya "negara" ini sedang berdemokrasi.
Kalau saya pribadi, kata dan konsep yang diambil dari bahasa latin itu, telah secara harfiah dididikkan pada publik berarti "suara rakyat", gitu kan? Dengan keterbatasan ketlatenan saya membaca text-book baik-baik, konsepsi mulia apa yang sesungguhnya terselubung dalam kata itu, tetapi, yang kita rasakan sebagai "korban" demokrasi, kata-kata itu digunakan untuk menyihir pemirsa bahwa "kata-kata publik" lah yang paling penting. Sialnya, publik sendiri tidak pernah tau siapa "publik". Ia tidak pernah tahu darimana asalnya suara, gitu kan. Tiba-tiba di publish aja, bahwa publik begini-publik begitu.
Ya, siapa sebenarnya Publik..?

Kamis, 10 Januari 2019

Berbicara Indonesia

Hm, mari disela-sela waktu menikmati kopi/senja antara ashar dan magrib ini kita sedikit bicara tentang Indonesia.
Rasanya lucu juga, bahwa Indonesia melangkah sejauh ini, dengan secarik-dua carik informasi yang ia ketahui tentang dirinya. Kemudian, sibuk menuduh sana sini sebagai pembenaran atas dirinya.
Pertanyaannya, apakah perlu kita berbicara tentang Indonesia..?


Seperti sebuah komitmen2 konyol bersama teman sepermainan yang kadang-kadang pernah kita celetukkan disela-sela waktu bermain kita dulu saat belia, begitukah Indonesia itu..? Sebuah "komitmen" yang ajur. Kalang kabut.. Urgent.

Negara.
Eh, um, mari kita menahan untuk tidak menyebut Indonesia sebagai Negara dulu. Karena, jika kita memang pernah punya hati nurani, Negara itu tidak seperti itu. Itu adalah, anak perusahaan. Iya, itu benar adanya. Punya kantor cabang, kantor pusat dimana ia tunduk. Lebih absurd lagi, ia adalah sepenggaal "tanah surga" yang selalu berusaha dieksploitasi oleh orang-orang yang lebih "pintar" di sana. Mengatasnamakan kepintaran mereka tentu saja. Untuk lebih keren, berjaya, dsb.
Sudahlah.
Mengenang itu semua seakan tidak ada habisnya. Menimbulkan rasa sakit yang perih2 gimana di relung hati.
Permasalahannya, gejolak seakan menantang semua untuk berbicara lantang sekarang, siapa kamu..?? Siapa Indonesia..??

Meruntih semua sejarah kembali yang berbaris manis, tapi abu-abu di sela-sela ingatan kita, selalu saja, berantuk pada rasa jengah itu yang tak mampu dikekang.

ingin berteriak AKU di pasar,
berlari ke hutan,
namun hanya bersua kekosongan

ingar
ku teriak agar berharap menemu suara gema yang memantul.
tapi sungguh ruang kotak ini tidak memberi apa2.

sudahlah.


***

Berbicara Indonesia, dengan bekal secarik kertas yang diberikan "Ibu" pada kita.
Mari teriak,
Yang lantang.

AGAR SEMUA DENGAR
BAHWA KITA, KESEPIAN